Hari Kebangkitan Nasional 2015
Politik ini jelas terlihat pada gambaran berikut:
Setelah menjajah selama 250 tahun
tepatnya pada 1850 Belanda mulai memberikan anggaran untuk anak-anak
Indonesia, itupun sangat kecil. Pendidikan yang disediakan tidak banyak,
bahkan proses pembelajaran tersebut hanya dilakukan untuk menciptakan
tenaga yang bisa baca tulis dan untuk keperluan perusahaan saja.
Keadaan tersebut membuat dr. Wahidin
Soedirohoesodo yang mula-mula berjuang melalui surat kabar
Retnodhumilah, menyerukan pada golongan priyayi Bumiputera untuk
membentuk dana pendidikan. Namun usaha tersebut belum membuahkan hasil,
sehingga dr. Wahidin Soedirohoesodo harus terjung ke lapangan dengan
berceramah langsung.
Dengan R. Soetomo sebagai motor, timbul
niat di kalangan pelajar STOVIA di Jakarta untuk mendirikan perhimpunan
di kalangan para pelajar guna menambah pesatnya usaha mengejar
ketertinggalan bangsa.
Langkah pertama yang dilakukan Soetomo dan beberapa temannya ialah mengirimkan surat-surat untuk mencari hubungan dengan murid-murid di kota-kota lain di luar Jakarta, misalnya: Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Magelang.
Langkah pertama yang dilakukan Soetomo dan beberapa temannya ialah mengirimkan surat-surat untuk mencari hubungan dengan murid-murid di kota-kota lain di luar Jakarta, misalnya: Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Magelang.
Pada hari Sabtu tanggal 20 Mei 1908
pukul 9 pagi, Soetomo dan kawan-kawannya: M. Soeradji, M. Muhammad
saleh, M. Soewarno, M. Goenawan, Soewarno, R.M. Goembrek, dan R. Angka
berkumpul dalam ruang kuliah anatomi. Setelah segala sesuatunya
dibicarakan masak-masak, mereka sepakat memilih “Boedi Oetomo” menjadi
nama perkumpulan yang baru saja mereka resmikan berdirinya.
“Boedi” artinya perangai atau tabiat sedangkan “Oetomo” berarti baik atau luhur. Boedi
Oetomo yang dimaksud oleh pendirinya adalah perkumpulan yang akan
mencapai sesuatu berdasarkan atas keluhuran budi, kebaikan perangai atau
tabiat, kemahirannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar